twitter rss

Popular Posts

Featured Post

Makalah Pancasila

BAB I PENDAHULUAN 1.1  Latar Belakang Sebagai dasar negara, Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam era reformasi sekarang. Merekahnya m...

Makalah Pancasila

Labels:
BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Sebagai dasar negara, Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam era reformasi sekarang. Merekahnya matahari bulan Juni 1945, 63 tahun yang lalu disambut dengan lahirnya sebuah konsepsi kenengaraan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu lahirnya Pancasila.

Sebagai falsafah negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya. Pancasila memang merupakan karunia terbesar dari Allah SWT dan ternyata merupakan light-star bagi segenap bangsa Indonesia di masa-masa selanjutnya, baik sebagai pedoman dalam memperjuangkan kemerdekaan, juga sebagai alat pemersatu dalam hidup kerukunan berbangsa, serta sebagai pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-hari, dan yang jelas tadi telah diungkapkan sebagai dasar serta falsafah negara Republik Indonesia.

Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan rakyat Indonesia, terkecuali bagi mereka yang tidak Pancasilais. Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Bunyi dan ucapan Pancasila yang benar berdasarkan Inpres Nomor 12 tahun 1968 adalah satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dan kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa di antara tokoh perumus Pancasila itu ialah, Mr Mohammad Yamin, Prof Mr Soepomo, dan Ir Soekarno. Dapat dikemukakan mengapa Pancasila itu sakti dan selalu dapat bertahan dari guncangan kisruh politik di negara ini, yaitu pertama ialah karena secara intrinsik dalam Pancasila itu mengandung toleransi, dan siapa yang menantang Pancasila berarti dia menentang toleransi.

Kedua, Pancasila merupakan wadah yang cukup fleksibel, yang dapat mencakup faham-faham positif yang dianut oleh bangsa Indonesia, dan faham lain yang positif tersebut mempunyai keleluasaan yang cukup untuk memperkembangkan diri. Yang ketiga, karena sila-sila dari Pancasila itu terdiri dari nilai-nilai dan norma-norma yang positif sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia, dan nilai serta norma yang bertentangan, pasti akan ditolak oleh Pancasila, misalnya Atheisme dan segala bentuk kekafiran tak beragama akan ditolak oleh bangsa Indonesia yang bertuhan dan ber-agama.

Diktatorisme juga ditolak, karena bangsa Indonesia berprikemanusiaan dan berusaha untuk berbudi luhur. Kelonialisme juga ditolak oleh bangsa Indonesia yang cinta akan kemerdekaan. Sebab yang keempat adalah, karena bangsa Indonesia yang sejati sangat cinta kepada Pancasila, yakin bahwa Pancasila itu benar dan tidak bertentangan dengan keyakinan serta agamanya.

Dengan demikian bahwa falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.

1.2  Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:

    Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pancasila.
    Untuk menambah pengetahuan tentang Pancasila dari aspek filsafat.
    Untuk mengetahui landasan filosofis Pancasila.
    Untuk mengetahui fungsi utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia.
    Untuk mengetahui bukti bahwa falsafah Pancasila dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia.

1.3  Manfaat

Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah:

    Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Pancasila dari aspek filsafat.
    Mahasiswa dapat mengetahui landasan filosofis Pancasila.
    Mahasiswa dapat mengetahui fungsi utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia.
    Mahasiswa dapat mengetahui bukti bahwa falsafah Pancasila dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia.

1.4  Ruang Lingkup

Makalah ini membahas mengenai landasan filosofis Pancasila dan fungsi utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia. Serta membahas mengenai bukti bahwa falsafah Pancasila dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia. Berdasarkan beberapa masalah yang teridentifikasi tersebut, makalah ini difokuskan pada falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia.

BAB II

METODE PENULISAN

2.1  Objek Penulisan

Objek penulisan makalah ini adalah mengenai falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia. Dalam makalah ini dibahas mengenai landasan filosofis Pancasila, fungsi utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia, dan bagaimana falsafah Pancasila dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia.

2.2  Dasar Pemilihan Objek

Makalah ini membahas mengenai falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia. Falsafah Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia. Maka dari itu masyarakat perlu mengetahui bahwa falsafah Pancasila dijadikan sebagai falsafah negara Indonesia yang terdapat dalam beberapa dokumen historis dan di dalam perundang-undangan negara Indonesia.

2.3  Metode Pengumpulan Data

Dalam pembuatan makalah ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah kaji pustaka terhadap bahan-bahan kepustakaan yang sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam makalah ini yaitu dengan tema wawasan kebangsaan. Sebagai referensi juga diperoleh dari situs web internet yang membahas mengenai falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia.

2.4  Metode Analisis

Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif analistis, yaitu mengidentifikasi permasalahan berdasarkan fakta dan data yanag ada, menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya, serta mencari alternatif pemecahan masalah

BAB III

FILOSOFIS PANCASILA

3.1    Landasan Filosofis Pancasila

3.1.1   Pengertian Filsafat

Secara etimologis istilah ”filsafat“ atau dalam bahasa Inggrisnya“philosophi” adalah berasal dari bahsa Yunani “philosophia” yang secara lazim diterjemahkan sebagai “cinta kearifan” kata philosophia tersebut berakar pada kata“philos”  (pilia, cinta) dan “sophia” (kearifan). Berdasarkan  pengertian bahasa tersebut filsafat berarti cinta kearifan. Kata kearifan bisa juga berarti “wisdom” atau kebijaksanaan sehingga filsafat bisa juga berarti cinta kebijaksanaan. Berdasarkan makna kata  tersebut maka mempelajari filsafat berarti merupakan upaya manusia untuk mencari kebijaksanaan hidup yang nantinya bisa menjadi konsep kebijakan hidup yang bermanfaat bagi peradaban manusia. Seorang ahli pikir disebut filosof, kata ini mula-mula dipakai oleh Herakleitos.

Pengetahuan bijaksana memberikan kebenaran, orang, yang mencintai pengetahuan bijaksana, karena itu yang mencarinya adalah oreang yang mencintai kebenaran. Tentang mencintai kebenaran adalah karakteristik dari setiap filosof dari dahulu sampai sekarang. Di dalam mencari kebijaksanaan itu, filosof mempergunakan cara dengan berpikir sedalam-dalamnya (merenung). Hasil filsafat (berpikir sedalam-dalamnya) disebut filsafat atau falsafah. Filsafat sebagai hasil berpikir sedalam-dalamnya diharapkan merupakan suatu yang paling bijaksana atau setidak-tidaknya mendekati kesempurnaan.

Beberapa tokoh-tokoh filsafat menjelaskan pengertian filsafat adalah sebagai berikut:

•       Socrates (469-399 s.M.)

Filsafat adalah suatu bentuk peninjauan diri yang bersifat reflektif atau berupa perenungan terhadap azas-azas dari kehidupan yang adil dan bahgia. Berdasarkan pemikiran tersebut dapat dikembangkan bahwa manusia akan menemukan kebahagiaan dan keadilan jika mereka mampu  dan mau melakukan peninajauan diri atau refleksi diri sehingga muncul koreksi terhadap diri secara obyektif

•       Plato (472 – 347 s. M.)

Dalam karya tulisnya “Republik” Plato menegaskan bahwa para filsuf adalah pencinta pandangan tentang kebenaran (vision of truth). Dalam pencarian dan menangkap pengetahuan mengenai  ide yang abadi dan tak berubah. Dalam konsepsi Plato filsafat merupakan pencarian yang bersifat spekulatif atau perekaan terhadap pandangan  tentang seluruh kebenaran. Filsafat Plato ini kemudan digolongkan sebagai filsafat spekulatif.    

3.1.2   Pengertian Pancasila

Kata Pancasila berasal dari kata Sansakerta (Agama Buddha) yaitu untuk mencapai Nirwana diperlukan 5 Dasar/Ajaran, yaitu

    Jangan mencabut nyawa makhluk hidup/Dilarang membunuh.
    Jangan mengambil barang orang lain/Dilarang mencuri
    Jangan berhubungan kelamin/Dilarang berjinah
    Jangan berkata palsu/Dilarang berbohong/berdusta.
    Jangan mjnum yang menghilangkan pikiran/Dilarang minuman keras.

Diadaptasi oleh orang jawa menjadi 5 M = Madat/Mabok, Maling/Nyuri, Madon/Awewe, Maen/Judi, Mateni/Bunuh.

Pengertian Pancasila Secara Etimologis

Perkataan Pancasil mula-mula terdapat dalam perpustakaan Buddha yaitu dalam Kitab Tripitaka dimana dalam ajaran buddha tersebut terdapat suatu ajaran moral untuk mencapai nirwana/surga melalui Pancasila yang isinya 5 J [idem].

Pengertian secara Historis

    Pada tanggal 01 Juni 1945 Ir. Soekarno berpidato tanpa teks mengenai rumusan Pancasila sebagai Dasar Negara.
    Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, kemudian keesokan harinya 18 Agustus 1945 disahkanlah UUD 1945 termasuk Pembukaannya dimana didalamnya terdapat rumusan 5 Prinsip sebagai Dasar Negara yang duberi nama Pancasila. Sejak saat itulah Pancasila menjadi Bahasa Indonesia yang umum. Jadi walaupun pada Alinea 4 Pembukaan UUD 45 tidak termuat istilah Pancasila namun yang dimaksud dasar Negara RI adalah disebut istilah Pancasila hal ini didaarkan interprestasi (penjabaran) historis terutama dalam rangka pembentukan Rumusan Dasar Negara.

Pengertian Pancasila Secara Termitologis

Proklamasi 17 Agustus 1945 telah melahirkan Negara RI untuk melengkapai alat2 Perlengkapan Negara PPKI mengadakan sidang pada tanggal 18 Agustus 1945 dan berhasil mengesahkan UUD 45 dimana didalam bagian Pembukaan yang terdiri dari 4 Alinea didalamnya tercantum rumusan Pancasila. Rumusan Pancasila tersebut secara Konstitusional sah dan benar sebagai dasar negara RI yang disahkan oleh PPKI yang mewakili seluruh Rakyat Indonesia
Pancasila Berbentuk:

    Hirarkis (berjenjang);
    Piramid.

A. Pancasila menurut Mr. Moh Yamin adalah yang disampaikan di dalam sidang BPUPKI pada tanggal 29 Mei 1945 isinya sebagai berikut:

    Prikebangsaan;
    Prikemanusiaan;
    Priketuhanan;
    Prikerakyatan;
    Kesejahteraan Rakyat

B. Pancasila menurut Ir. Soekarno yang disampaikan pada tangal 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI, sebagai berikut:

    Nasionalisme/Kebangsaan Indonesia;
    Internasionalisme/Prikemanusiaan;
    Mufakat/Demokrasi;
    Kesejahteraan Sosial;
    Ketuhanan yang berkebudayaan;

Presiden Soekarno mengusulkan ke-5 Sila tersebut dapat diperas menjadi Trisila yaitu:

    Sosio Nasional : Nasionalisme dan Internasionalisme;
    Sosio Demokrasi : Demokrasi dengan kesejahteraan rakyat;
    Ketuhanan YME.

Dan masih menurut Ir. Soekarno Trisila masih dapat diperas lagi menjadi Ekasila atau Satusila yang intinya adalah Gotong Royong.

C. Pancasila menurut Piagam Jakarta yang disahkan pada tanggal 22 Juni 1945 rumusannya sebagai berikut:

    Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya;
    Kemanusiaan yang adil dan beradab;
    Persatuan Indonesia;
    Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan;
    Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia;

Kesimpulan dari bermacam-macam pengertian pancasila tersebut yang sah dan benar secara Konstitusional adalah pancasila yang tercantum dalam Pembukaan Uud 45, hal ini diperkuat dengan adanya ketetapan MPRS NO.XXI/MPRS/1966 dan Inpres No. 12 tanggal 13 April 1968 yang menegaskan bahwa pengucapan, penulisan dan Rumusan Pancasila Dasar Negara RI yang sah dan benar adalah sebagai mana yang tercantum dalam Pembukaan Uud 1945.

3.1.3   Pengertian Filsafat Pancasila

                   Pancasila dikenal sebagai filosofi Indonesia. Kenyataannya definisi filsafat dalam filsafat Pancasila telah diubah dan diinterpretasi berbeda oleh beberapa filsuf Indonesia. Pancasila dijadikan wacana sejak 1945. Filsafat Pancasila senantiasa diperbarui sesuai dengan “permintaan” rezim yang berkuasa, sehingga Pancasila berbeda dari waktu ke waktu.

     Filsafat Pancasila Asli

Pancasila merupakan konsep adaptif filsafat Barat. Hal ini merujuk pidato Sukarno di BPUPKI dan banyak pendiri bangsa merupakan alumni Universitas di Eropa, di mana filsafat barat merupakan salah satu materi kuliah mereka. Pancasila terinspirasi konsep humanisme, rasionalisme, universalisme, sosiodemokrasi, sosialisme Jerman, demokrasi parlementer, dan nasionalisme.

     Filsafat Pancasila versi Soekarno

Filsafat Pancasila kemudian dikembangkan oleh Sukarno sejak 1955 sampai berakhirnya kekuasaannya (1965). Pada saat itu Sukarno selalu menyatakan bahwa Pancasila merupakan filsafat asli Indonesia yang diambil dari budaya dan tradisi Indonesia dan akulturasi budaya India (Hindu-Budha), Barat (Kristen), dan Arab (Islam). Menurut Sukarno “Ketuhanan” adalah asli berasal dari Indonesia, “Keadilan Soasial” terinspirasi dari konsep Ratu Adil. Sukarno tidak pernah menyinggung atau mempropagandakan “Persatuan”.

       Filsafat Pancasila versi Soeharto

Oleh Suharto filsafat Pancasila mengalami Indonesiasi. Melalui filsuf-filsuf yang disponsori Depdikbud, semua elemen Barat disingkirkan dan diganti interpretasinya dalam budaya Indonesia, sehingga menghasilkan “Pancasila truly Indonesia”. Semua sila dalam Pancasila adalah asli Indonesia dan Pancasila dijabarkan menjadi lebih rinci (butir-butir Pancasila). Filsuf Indonesia yang bekerja dan mempromosikan bahwa filsafat Pancasila adalah truly Indonesia antara lain Sunoto, R. Parmono, Gerson W. Bawengan, Wasito Poespoprodjo, Burhanuddin Salam, Bambang Daroeso, Paulus Wahana, Azhary, Suhadi, Kaelan, Moertono, Soerjanto Poespowardojo, dan Moerdiono.

Berdasarkan penjelasan diatas maka pengertian filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.

Kalau dibedakan anatara filsafat yang religius dan non religius, maka filsafat Pancasila tergolong filsafat yang religius. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila dalam hal kebijaksanaan dan kebenaran mengenal adanya kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa (kebenaran religius) dan sekaligus mengakui keterbatasan kemampuan manusia, termasuk kemampuan berpikirnya.

Dan kalau dibedakan filsafat dalam arti teoritis dan filsafat dalam arti praktis, filsafast Pancasila digolongkandalam arti praktis. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila di dalam mengadakan pemikiran yang sedalam-dalamnya, tidak hanya bertujuan mencari kebenaran dan kebijaksanaan, tidak sekedar untukmemenuhi hasrat ingin tahu dari manusia yang tidak habis-habisnya, tetapi juga dan terutama hasil pemikiran yang berwujud filsafat Pancasila tersebut dipergunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari (pandangan hidup, filsafat hidup, way of the life, Weltanschaung dan sebgainya); agar hidupnya dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat.

Selanjutnya filsafat Pancasila mengukur adanya kebenran yang bermacam-macam dan bertingkat-tingkat sebgai berikut:

1.      Kebenaran indra (pengetahuan biasa);

2.      Kebenaran ilmiah (ilmu-ilmu pengetahuan);

3.      Kebenaran filosofis (filsafat);

4.      Kebenaran religius (religi).

Untuk lebih meyakinkan bahwa Pancasila itu adalah ajaran filsafat, sebaiknya kita kutip ceramah Mr.Moh Yamin pada Seminar Pancasila di Yogyakarta tahun 1959 yang berjudul “Tinjauan Pancasila Terhadap Revolusi Fungsional”, yang isinya anatara lain sebagai berikut:

Tinjauan Pancasila adalah tersusun secara harmonis dalam suatu sistem filsafat. Marilah kita peringatkan secara ringkas bahwa ajaran Pancasila itu dapat kita tinjau menurut ahli filsafat ulung, yaitu Friedrich Hegel (1770-1831) bapak dari filsafat Evolusi Kebendaan seperti diajarkan oleh Karl Marx (1818-1883) dan menurut tinjauan Evolusi Kehewanan menurut Darwin Haeckel, serta juga bersangkut paut dengan filsafat kerohanian seperti diajarkan oleh Immanuel Kant (1724-1804).

Menurut Hegel hakikat filsafatnya ialah suatu sintese pikiran yang lahir dari antitese pikiran. Dari pertentangan pikiran lahirlah paduan pendapat yang harmonis. Dan ini adalah tepat. Begitu pula denga ajaran Pancasila suatu sintese negara yang lahir dari antitese.

Saya tidak mau menyulap. Ingatlah kalimat pertama dan Mukadimah UUD Republik Indonesia 1945 yang disadurkan tadi dengan bunyi: Bahwa sesungguhanya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu penjajahan harus dihapusakan karena bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Kalimat pertama ini adalah sintese yaitu antara penjajahan dan perikemanusiaan dan perikeadilan. Pada saat sintese sudah hilang, maka lahirlah kemerdekaan. Dan kemerdekaan itu kita susun menurut ajaran falsafah Pancasila yang disebutkan dengan terang dalam Mukadimah Konstitusi R.I. 1950 itu yang berbunyi: Maka dengan ini kami menyusun kemerdekaan kami itu, dalam suatu Piagam Negara yang berbentuk Republik Kesatuan berdasarkan ajaran Pancasila. Di sini disebut sila yang lima untukmewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan dan perdamaian dunia dan kemerdekaan. Kalimat ini jelas kalimat antitese. Sintese kemerdekaan dengan ajaran Pancasila dan tujuan kejayaan bangsa yang bernama kebahagiaan dan kesejajteraan rakyat. Tidakah ini dengan jelas dan nyata suatu sintese pikiran atas dasar antitese pendapat?

Jadi sejajar denga tujuan pikiran Hegel beralasanlah pendapat bahwa ajaran Pancasila itu adalah suatu sistem filosofi, sesuai dengan dialektis Neo-Hegelian.

Semua sila itu adalah susunan dalam suatu perumahan pikiran filsafat yang harmonis. Pancasila sebagai hasil penggalian Bung Karno adalah sesuai pula dengan pemandangan tinjauan hidup Neo-Hegelian.

3.2    Fungsi Utama Filsafat Pancasila Bagi Bangsa Dan Negara Indonesia.

3.2.1   Filasafat Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia.

Setiapa bangsa yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas ke arah mana tujuan yang ingin dicapainya sangat memerlukan pandangan hidup (filsafata hidup). Dengan pandangan hidup inilah sesuatu bangsa akan memandang persoalan-persoalan yang dihadapinya dan menentukan arah serta cara bagaimana memecahkan persoalan-persoalan tadi. Tanpa memiliki pandangan hidup maka suatu bangsa akan merasa terombang-ambing dalam menghadapi persoalan-persoalan besar yang pasti akan timbul, baik persoalan-persoalan di dalam masyarakatnya sendiri, maupun persoalan-persoalan besar umat manusia dalam pergaulan masyarakat bangsa-bangsa di dunia ini. Dengan pandangan hidup yang jelas sesuatu bangsa akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana ia memecahkan masalah-masalah polotik, ekonomi, sosial dan budaya yang timbul dalam gerak masyarakat yang makin maju. Dengan berpedoman pada pandangan hidup itu pula suatu bangsa akan membangun dirinya.

Dalam pergaulan hidup itu terkandung konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan oleh suatu bangsa, terkandung pikiran-pikiran yang terdalam dan gagasan sesuatu bangsa mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik. Pada akhirnyta pandangan hidup sesuatu bangsa adalah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa itu sendiri, yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkannya.

Kita merasa bersyukur bahwa pendahulu-pendahulu kita, pendiri-pendiri Republik ini dat memuaskan secara jelas apa sesungguhnya pandangan hidup bangsa kita yang kemudian kita namakan Pancasila. Seperti yang ditujukan dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1979, maka Pancasila itu adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia dan dasar negara kita.

Disamping itu maka bagi kita Pancasila sekaligus menjadi tujuan hidup bangsa Indonesia. Pancasila bagi kita merupakan pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita moral yang meliputi kejiwaan dan watak yang sudah beurat/berakar di dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Ialah suatu kebudayaan yang mengajarkan bahwa hidup manusia ini akan mencapai kebahagiaan jika kita dapat baik dalam hidup manusia sebagai manusia dengan alam dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun dalam mengejar kemajuan lahiriyah dan kebahagiaan rohaniah.

Bangsa Indonesia lahir sesudah melampaui perjuangan yang sangat panjang, dengan memberikan segala pengorbanan dan menahan segala macam penderitaan. Bangsa Indonesia lahir menurut cara dan jalan yang ditempuhnya sendiri yang merupakan hasil antara proses sejarah di masa lampau, tantangan perjuangan dan cita-cita hidup di masa datang yang secara keseluruhan membentuk kepribadian sendiri.

Sebab itu bnagsa Indonesia lahir dengan kepribadiannya sendiri yang bersamaan lahirnya bangsa dan negara itu, kepribadian itu ditetapkan sebagai pandangan hidup dan dasar negara Pancasila. Karena itulah, Pancasila bukan lahir secara mendadak pada tahun 1945, melainkan telah berjuang, denga melihat pengalaman bangsa-bangsa lain, dengan diilhami dengan oleh gagasan-gagasan besar dunia., dengan tetap berakar pada kepribadian bangsa kita dan gagasan besar bangsa kita sendiri.

Karena Pancasila sudah merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa, maka ia diterima sebagai dasar negara yang mengatur hidup ketatanegaraan. Hal ini tampak dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda, namun dalam 3 buah UUD yang pernah kita miliki yaitu dalam pembukaan UUD 1945, dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia 1950. Pancasila itu tetap tercantum didalamnya, Pancasila yang lalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional itu, Pancasila yang selalu menjadi pegangan bersama saat-saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa kita, merupakan bukti sejarah sebagai dasar kerohanian negar, dikehendaki oleh bangsa Indonesia karena sebenarnya ia telah tertanam dalam kalbunya rakyat. Oleh karena itu, ia juga merupakan dasasr yang mamapu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia.

3.2.2   Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia

Pancasila yang dikukuhkan dalam sidang I dari BPPK pada tanggal 1 Juni 1945 adalah di kandung maksud untuk dijadikan dasar bagi negara Indonesia merdeka. Adapun dasar itu haruslah berupa suatu filsafat yang menyimpulkan kehidupan dan cita-cita bangsa dan negara Indonesa yang merdeka. Di atas dasar itulah akan didirikan gedung Republik Indonesia sebagai perwujudan kemerdekaan politik yang menuju kepada kemerdekaan ekonomi, sosial dan budaya.

Sidang BPPK telah menerima secara bulat Pancasila itu sebagai dasar negara Indonesia merdeka. Dalam keputusan sidang PPKI kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila tercantum secara resmi dalam Pembukaan UUD RI, Undang-Undang Dasar yang menjadi sumber ketatanegaraan harus mengandung unsur-unsur pokok yang kuat yang menjadi landasan hidup bagi seluruh bangsa dan negara, agar peraturan dasar itu tahan uji sepanjang masa.

Peraturan selanjutnya yang disusun untuk mengatasi dan menyalurkan persoalan-persoalan yang timbul sehubungan dengan penyelenggaraan dan perkembangan negara harus didasarkan atas dan berpedoman pada UUD. Peraturan-peraturan yang bersumber pada UUD itu disebut peraturan-peraturan organik yang menjadi pelaksanaan dari UUD.

Oleh karena Pancasila tercantum dalam UUD 1945 dan bahkan menjiwai seluruh isi peraturan dasar tersebut yang berfungsi sebagai dasar negara sebagaimana jelas tercantum dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945 tersebut, maka semua peraturan perundang-undangan Republik Indonesia (Ketetapan MPR, Undang-undang, Peraturan Pemerintah sebagai pengganti Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden dan peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya) yang dikeluarkan oleh negara dan pemerintah Republik Indonesia haruslah pula sejiwa dan sejalan dengan Pancasila (dijiwai oleh dasar negara Pancasila). Isi dan tujuan dari peraturan perundang-undangan Republik Indonesia tidak boleh menyimpang dari jiwa Pancasila. Bahkan dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 ditegaskan, bahwa Pancasila itu adalah sumber dari segala sumber huum (sumber huum formal, undang-undang, kebiasaan, traktaat, jurisprudensi, hakim, ilmu pengetahuan hukum).

Di sinilah tampak titik persamaan dan tujuan antara jalan yang ditempuh oleh masyarakat dan penyusun peraturan-peraturan oleh negara dan pemerintah Indonesia.

Adalah suatu hal yang membanggakan bahwa Indonesia berdiri di atas fundamen yang kuat, dasar yang kokoh, yakni Pancasila dasar yang kuat itu bukanlah meniru suatu model yang didatangkan dari luar negeri.

Dasar negara kita berakar pada sifat-sifat dan cita-cita hidup bangsa Indonesia, Pancasila adalah penjelmaan dari kepribadian bangsa Indonesia, yang hidup di tanah air kita sejak dahulu hingga sekarang.

Pancasila mengandung unsur-unsur yang luhur yang tidak hanya memuaskan bangsa Indonesia sebagai dasar negara, tetapi juga dapat diterima oleh bangsa-bangsa lain sebagai dasar hidupnya. Pancasila bersifat universal dan akan mempengaruhi hidup dan kehidupan banga dan negara kesatuan Republik Indonesia secara kekal dan abadi.

3.2.3   Pancasila Sebagai Jiwa Dan Kepribadian Bangsa Indonesia

Menurut Dewan Perancang Nasional, yang dimaksudkan dengan kepribadian Indonesia ialah : Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia, yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lainnya. Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa Indonesia adalah pencerminan dari garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa.

Garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia yang ditentukan oleh kehidupan budi bangsa Indonesia dan dipengaruhi oleh tempat, lingkungan dan suasana waktu sepanjang masa. Walaupun bangsa Indonesia sejak dahulu kala bergaul dengan berbagai peradaban kebudayaan bangsa lain (Hindu, Tiongkok, Portugis, Spanyol, Belanda dan lain-lain) namun kepribadian bangsa Indonesia tetap hidup dan berkembang. Mungkin di sana-sini, misalnya di daerah-daerah tertentu atau masyarakat kota kepribadian itu dapat dipengaruhi oleh unsur-unsur asing, namun pada dasarnya bangsa Indonesia tetap hidup dalam kepribadiannya sendiri. Bangsa Indonesia secara jelas dapat dibedakan dari bangsa-bangsa lain. Apabila kita memperhatikan tiap sila dari Pancasila, maka akan tampak dengan jelas bahwa tiap sila Pancasila itu adalah pencerminan dari bangsa kita.

Demikianlah, maka Pancasila yang kita gali dari bumi Indonsia sendiri merupakan :

a)            Dasar negara kita, Republik Indonesia, yang merupakan sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di negara kita.

b)            Pandangan hidup bangsa Indonesia yang dapat mempersatukan kita serta memberi petunjuk dalam masyarakat kita yang beraneka ragam sifatnya.

c)            Jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, karena Pancasila memberikan corak yang khas kepada bangsa Indonesia dan tak dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia, serta merupakan ciri khas yang dapat membedakan bangsa Indonesia dari bangsa yang lain. Terdapat kemungkinan bahwa tiap-tiap sila secara terlepas dari yang lain bersifat universal, yang juga dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini, akan tetapi kelima sila yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan itulah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

d)           Tujuan yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia, yakni suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila di dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai.

e)            Perjanjian luhur rakyat Indonesia yang disetujui oleh wakil-wakil rakyat Indonesia menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan yang kita junjung tinggi, bukan sekedar karena ia ditemukan kembali dari kandungan kepribadian dan cita-cita bangsa Indonesia yang terpendam sejak berabad-abad yang lalu, melainkan karena Pancasila itu telah mampu membuktikan kebenarannya setelah diuji oleh sejarah perjuangan bangsa.

Oleh karena itu yang penting adalah bagaimana kita memahami, menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam segala segi kehidupan. Tanpa ini maka Pancasila hanya akan merupakan rangkaian kata-kata indah yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945, yang merupakan perumusan yang beku dan mati, serta tidak mempunyai arti bagi kehidupan bangsa kita.

Akhirnya perlu juga ditegaskan, bahwa apabila dibicarakan mengenai Pancasila, maka yang kita maksud adalah Pancasila yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu :

    Ketuhanan Yang Maha Esa.
    Kemanusiaan yang adil dan beradab.
    Persatuan Indonesia.
    Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawratan / perwakilan.
    Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rumusan Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 itulah yang kita gunakan, sebab rumusan yang demikian itulah yang ditetapkan oleh wakil-wakil bangsa Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Seperti yang telah ditunjukkan oleh Ketetapan MPR                         No. XI/MPR/1978, Pancasila itu merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh dari kelima silanya. Dikatakan sebagai kesatuan yang bulat dan utuh, karena masing-masing sila dari Pancasila itu tidak dapat dipahami dan diberi arti secara sendiri-sendiri, terpisah dari keseluruhan sila-sila lainnya. Memahami atau memberi arti setiap sila-sila secara terpisah dari sila-sila lainnya akan mendatangkan pengertian yang keliru tentang Pancasila.

3.3    Falsafah Pancasila Sebagai Dasar Falsafah Negara Indonesia

Falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia, dapatlah kita temukan dalam beberapa dokumen historis dan di dalam perundang-undangan negara Indonesia seperti di bawah ini :

    Dalam Pidato Ir. Soekarno tanggal 1 Juni 1945.
    Dalam Naskah Politik yang bersejarah, tanggal 22 Juni 1945 alinea IV yang kemudian dijadikan naskah rancangan Pembukaan UUD 1945 (terkenal dengan sebutan Piagam Jakarta).
    Dalam naskah Pembukaan UUD Proklamasi 1945, alinea IV.
    Dalam Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) tanggal         27 Desember 1945, alinea IV.
    Dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia (UUDS RI) tanggal 17 Agustus 1950.
    Dalam Pembukaan UUD 1945, alinea IV setelah Dekrit Presiden RI tanggal        5 Juli 1959.

Mengenai perumusan dan tata urutan Pancasila yang tercantum dalam dokumen historis dan perundang-undangan negara tersebut di atas adalah agak berlainan tetapi inti dan fundamennya adalah tetap sama sebagai berikut :

1.        Pancasila Sebagai Dasar Falsafat Negara Dalam Pidato Tanggal 1 Juni 1945 Oleh Ir. Soekarno

Ir. Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 untuk pertamakalinya mengusulkan falsafah negara Indonesia dengan perumusan dan tata urutannya sebagai berikut :

       Kebangsaan Indonesia.

       Internasionalisme atau Prikemanusiaan.

       Mufakat atau Demokrasi.

       Kesejahteraan sosial.

       Ketuhanan.

3.4 Pengertian Etika, Moral dan Etiket

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata ‘etika’ yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta etha yaitu adat kebiasaan.

Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).

Biasanya bila kita mengalami kesulitan untuk memahami arti sebuah kata maka kita akan mencari arti kata tersebut dalam kamus. Tetapi ternyata tidak semua kamus mencantumkan arti dari sebuah kata secara lengkap. Hal tersebut dapat kita lihat dari perbandingan yang dilakukan oleh K. Bertens terhadap arti kata ‘etika’ yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama dengan Kamus Bahasa Indonesia yang baru. Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953 – mengutip dari Bertens,2000), etika mempunyai arti sebagai : “ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)”. Sedangkan kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988 – mengutip dari Bertens 2000), mempunyai arti :

1. ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak);
2. kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
3. nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Dari perbadingan kedua kamus tersebut terlihat bahwa dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama hanya terdapat satu arti saja yaitu etika sebagai ilmu. Sedangkan Kamus Bahasa Indonesia yang baru memuat beberapa arti. Kalau kita misalnya sedang membaca sebuah kalimat di berita surat kabar “Dalam dunia bisnis etika merosot terus” maka kata ‘etika’ di sini bila dikaitkan dengan arti yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama tersebut tidak cocok karena maksud dari kata ‘etika’ dalam kalimat tersebut bukan etika sebagai ilmu melainkan ‘nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat’. Jadi arti kata ‘etika’ dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama tidak lengkap.

K. Bertens berpendapat bahwa arti kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut dapat lebih dipertajam dan susunan atau urutannya lebih baik dibalik, karena arti kata ke-3 lebih mendasar daripada arti kata ke-1. Sehingga arti dan susunannya menjadi seperti berikut :

1. nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

Misalnya, jika orang berbicara tentang etika orang Jawa, etika agama Budha, etika Protestan dan sebagainya, maka yang dimaksudkan etika di sini bukan etika sebagai ilmu melainkan etika sebagai sistem nilai. Sistem nilai ini bisaberfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada taraf sosial.

2. kumpulan asas atau nilai moral.

Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Contoh : Kode Etik Jurnalistik

3. ilmu tentang yang baik atau buruk.

Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan sering kali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama artinya dengan filsafat moral.

3.4.1 Pengertian Moral

Istilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata ‘moral’ yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata ‘etika’, maka secara etimologis, kata ’etika’ sama dengan kata ‘moral’ karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat. Dengan kata lain, kalau arti kata ’moral’ sama dengan kata ‘etika’, maka rumusan arti kata ‘moral’ adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu ‘etika’ dari bahasa Yunani dan ‘moral’ dari bahasa Latin. Jadi bila kita mengatakan bahwa perbuatan pengedar narkotika itu tidak bermoral, maka kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau bila kita mengatakan bahwa pemerkosa itu bermoral bejat, artinya orang tersebut berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik.

‘Moralitas’ (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan ‘moral’, hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang “moralitas suatu perbuatan”, artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

Pengertian Etiket

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia diberikan beberapa arti dari kata “etiket”, yaitu :

1. Etiket (Belanda) secarik kertas yang ditempelkan pada kemasan barang-barang (dagang) yang bertuliskan nama, isi, dan sebagainya tentang barang itu.

2. Etiket (Perancis) adat sopan santun atau tata krama yang perlu selalu diperhatikan dalam pergaulan agar hubungan selalu baik.

Perbedaan Etiket dengan Etika

K. Bertens dalam bukunya yang berjudul “Etika” (2000) memberikan 4 (empat) macam perbedaan etiket dengan etika, yaitu :

1. Etiket menyangkut cara (tata acara) suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Misal : Ketika saya menyerahkan sesuatu kepada orang lain, saya harus menyerahkannya dengan menggunakan tangan kanan. Jika saya menyerahkannya dengan tangan kiri, maka saya dianggap melanggar etiket.

Etika menyangkut cara dilakukannya suatu perbuatan sekaligus memberi norma dari perbuatan itu sendiri. Misal : Dilarang mengambil barang milik orang lain tanpa izin karena mengambil barang milik orang lain tanpa izin sama artinya dengan mencuri. “Jangan mencuri” merupakan suatu norma etika. Di sini tidak dipersoalkan apakah pencuri tersebut mencuri dengan tangan kanan atau tangan kiri.

2. Etiket hanya berlaku dalam situasi dimana kita tidak seorang diri (ada orang lain di sekitar kita). Bila tidak ada orang lain di sekitar kita atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Misal : Saya sedang makan bersama bersama teman sambil meletakkan kaki saya di atas meja makan, maka saya dianggap melanggat etiket. Tetapi kalau saya sedang makan sendirian (tidak ada orang lain), maka saya tidak melanggar etiket jika saya makan dengan cara demikian.

Etika selalu berlaku, baik kita sedang sendiri atau bersama orang lain. Misal: Larangan mencuri selalu berlaku, baik sedang sendiri atau ada orang lain. Atau barang yang dipinjam selalu harus dikembalikan meskipun si empunya barang sudah lupa.

3. Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan, bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Misal : makan dengan tangan atau bersendawa waktu makan.

Etika bersifat absolut. “Jangan mencuri”, “Jangan membunuh” merupakan prinsip-prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar.

4.. Etiket memandang manusia dari segi lahiriah saja. Orang yang berpegang pada etiket bisa juga bersifat munafik. Misal : Bisa saja orang tampi sebagai “manusia berbulu ayam”, dari luar sangan sopan dan halus, tapi di dalam penuh kebusukan.

Etika memandang manusia dari segi dalam. Orang yang etis tidak mungkin bersifat munafik, sebab orang yang bersikap etis pasti orang yang sungguh-sungguh baik.

BAB IV

PENUTUP

4.1  Kesimpulan

Setelah memperhatikan isi dalam pembahasan di atas, maka dapat penulis tarik kesimpulan sebagai berikut:

1.      Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.

2.      Fungsi utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia yaitu:

a)      Filasafat Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia

b)      Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia

c)      Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia

3.      Falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia, hal tersebut dapat dibuktikan dengan ditemukannya dalam beberapa dokumen historis dan di dalam perundang-undangan negara Indonesia seperti di bawah ini :

    Dalam Pidato Ir. Soekarno tanggal 1 Juni 1945.
    Dalam Naskah Politik yang bersejarah, tanggal 22 Juni 1945 alinea IV yang kemudian dijadikan naskah rancangan Pembukaan UUD 1945 (terkenal dengan sebutan Piagam Jakarta).
    Dalam naskah Pembukaan UUD Proklamasi 1945, alinea IV.
    Dalam Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) tanggal        27 Desember 1945, alinea IV.
    Dalam Mukadimah UUD Sementara Republik Indonesia (UUDS RI) tanggal 17 Agustus 1950.
    Dalam Pembukaan UUD 1945, alinea IV setelah Dekrit Presiden RI tanggal 5 Juli 1959.

4.2  Saran

Warganegara Indonesia merupakan sekumpulan orang yang hidup dan tinggal di negara Indonesia Oleh karena itu sebaiknya warga negara Indonesia harus lebih meyakini atau mempercayai, menghormati, menghargai menjaga, memahami dan melaksanakan segala hal yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya dalam pemahaman bahwa falsafah Pancasila adalah sebagai dasar falsafah negara Indonesia. Sehingga kekacauan yang sekarang terjadi ini dapat diatasi dan lebih memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia ini.

DAFTAR PUSTAKA

v  Koentjaraningrat. 1980. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.

v  Nopirin. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta:Pancoran Tujuh.

v  Notonagoro. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9.Jakarta: Pantjoran Tujuh.

v  Salam, H. Burhanuddin, 1998. Filsafat Pancasilaisme. Jakarta: Rineka Cipta.

v  Pengertian Etika 17 November 2008 by Pakde sofa

Sumber Lain :

v  http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/filsafat/index.htm

v  http:// www.google.co.id

v  http://www.goodgovernance-bappenas.go.id/artikel_148.htm

v  http:// www.teoma.com

v  http:// www.kumpulblogger.com

Sombong

Apa yang sebenarnya hendak disombongkan manusia?", ujar seorang 'Arab dusun pada Yahya ibn Al Mihlab, sang maha-menteri yang bermegah-mewah. "Kamu tak kenal siapa aku?" "Kenal", sahut si Badui. "Dulu kamu setetes air hina, yang dihinggapi lalat jika tercecer bekasnya. Kelak kau akan jadi bangkai, menggelembung, berbelatung, dan busuk anyir baunya. Dan kini seonggok daging, hilir mudik ke sana kemari membawa-bawa kotoran di dalam perutnya." Duhai yang mengenal dirinya, tidakkah menusuk hakikat diri ala si 'Arabi ini?

Jadi apa yang membuatnya merasa besar dan bangga diri? Tidak, pasti bukan karena kelebihan dan keutamaan yang dianugerahkan. Sebab kalau itu, pasti Sulaiman 'Alaihissalam lebih mabuk kuasa dibanding Fir'aun dan lebih mabuk harta daripada Qarun.

Apalah arti Mesir, aliran Nil, dan Bani Israil yang diperbudak dibanding bahasa serta kuasa atas angin, jin, segala fauna, burung, dan manusia? Apalah arti kunci-kunci gudang harta yang memberati para perkasa, dibanding singgasana yang sekejap berpindah dan istana yang sekejap terada?

Tidak, kesombongan wujud bukan karena kelebihan yang ada; tapi kerdilnya jiwa dan sempitnya wawasan. Maka selalulah kesadaran Sulaiman kita jaga dengan hati runduk, "Hadza min fadhli Rabbi... Ini semua anugerah Rabbku, untuk mengujiku apakah syukur atau kufurkah aku." Sombong karena pakaian? Jiwa jadi lebih murah dari harga baju. Sombong karena hunian? Hati jadi lebih murah dari harga rumah. Sombong karena kendaraan? Ruh jadi lebih murah dari harga motor.

Duhai semua isi dunia cuma titipan. Tapi yang saya naiki ini bahkan bukan titipan, melainkan hanya cicipan. Lha wong ia adanya di Museum Harley Davidson di Milwaukee. Tidak bisa digeber starter supaya bersuara, "Harley harley harley... Harley harley harley... Davidson davidson davidsoooooooon." Tidak bisa pula dipakai gagah-gagahan seakan semua ruas jalan miliknya Eyang.

Jadi apa yang mau disombongkan?

https://www.instagram.com/p/BQHEUd4DmqO/

Kembang Api Terlama Malam Tahun Baru 2017 | Live Anjungan Nusantara Kota...

Makalah Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan bagian yang inhern dalam kehidupan manusia. Dan, manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan. Karena hal itulah, maka pendidikan merupakan sebuah proses yang sangat vital dalam kelangsungan hidup manusia. Tak terkecuali pendidikan Islam, yang dalam sejarah perjalanannya memiliki berbagai dinamika. Eksistensi pendidikan Islam senyatanya telah membuat kita terperangah dengan berbagai dinamika dan perubahan yang ada.

Berbagai perubahan dan perkembangan dalam pendidikan Islam itu sepatutnya membuat kita senantiasa terpacu untuk mengkaji dan meningkatkan lagi kualitas diri, demi peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan Islam di Indonesia. Telah lazim diketahui, keberadaan pendidikan Islam di Indonesia banyak diwarnai perubahan, sejalan dengan perkembangan zaman serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Sejak dari awal pendidikan Islam, yang masih berupa pesantren tradisional hingga modern, sejak madrasah hingga sekolah Islam bonafide, mulai Sekolah Tinggi Islam sampai Universitas Islam, semua tak luput dari dinamika dan perubahan demi mencapai perkembangan dan kemajuan yang maksimal. Pertanyaannya kemudian adalah sudahkah kita mencermati dan memahami bagaimana kemunculan dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, untuk kemudian dapat bersama-sama meningkatkan kualitasnya, demi tercipta pendidikan Islam yang humanis, dinamis, berkarakter sekaligus juga tetap dalam koridor Alqur’an dan Assunah.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini terdapat beberapa rumusan masalah yang akan dicoba untuk dikaji dan digali, sehingga diharapkan mampu menambah wawasan terkait pendidikan Islam dan eksistensinya di Indonesia. Beberapa rumusan masalah tersebut di antaranya:

a. Apa pengertian Pendidikan Islam ?
b. Bagaimana akar dan awal mula pendidikan Islam di Indonesia?
c. Apa saja jenis lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia?
d. Bagaimana perkembangan pendidikan Islam di Indonesia ?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menambah wawasan mengenai Pendidikan Islam di Indonesia, serta bagaimana  sistem Pendidikan Islam dapat menjamin kesejahteraan umat.

1.4 Metode Penulisan

Metode penelitian dan pengumpulan data dalam makalah ini di lakukan dengan sistem dokumentatif, yaitu mengambil referensi bahan dari beberapa sumber yang telah di rangkum.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian yang lebih baik, yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal. Manusia ideal adalah manusia yang sempurna akhlaqnya. Yang nampak dan sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, yaitu menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Agama Islam adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan baik kehidupan yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya ukhrawi. Salah satu ajaran Islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan, karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan terarah.

Adapun yang dimaksud dengan pendidikan Islam sangat beragam, hal ini terlihat dari definisi pendidikan Islam yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pendidikan berikut ini:

Prof. Dr. Omar Mohammad At-Toumi Asy-Syaibany mendefinisikan pendidikan islam sebagai proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat. (Asy-Syaibany, 1979: 399)

Pengertian tersebut memfokuskan perubahan tingkah laku manusia yang konotasinya pada pendidikan etika. Selain itu, pengertian tersebut menekankan pada aspek-aspek produktivitas dan kreatifitas manusia dalam peran dan profesinya dalam kehidupan masyarakat dan alam semesta.

Dr. Muhammad Fadhil Al-Jamali memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untk lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan.

2.2. Pesantren; Akar Pendidikan Islam di Indonesia

Terkait kemunculan dan masuknya Islam di Indonesia, sampai saat ini masih menjadi kontroversi di kalangan para ilmuwan dan sejarawan. Namun demikian, mayoritas dari mereka menduga bahwa Islam telah diperkenalkan di Indonesia sekitar abad ke-7 M oleh para musafir dan pedagang muslim, melalui jalur perdagangan dari Teluk Parsi dan Tiongkok. Kemudian pada abad ke-11M sudah dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk di kepulauan Nusantara melalui kota-kota pantai di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Dan, pada abad itu pula muncul pusat-pusat kekuasaan serta pendalaman studi ke-Islaman. Dari pusat-pusat inilah kemudian akhirnya Islam dapat berkembang dan tersebar ke seluruh pelosok Nusantara. Perkembangan dan perluasan Islam itu tidak lain melalui para pedagang muslim, wali, muballigh dan ulama’ dengan cara pendirian masjid, pesantren atau dayah atau surau.

Pada dasarnya, pendidikan Islam di Indonesia sudah berlangsung sejak masuknya Islam ke Indonesia. Pada tahap awal, pendidikan Islam dimulai dari kontak-kontak pribadi maupun kolektif antara muballigh (pendidik) dengan peserta didiknya. Setelah komunitas muslim daerah terbentuk di suatu daerah tersebut, mereka membangun tempat peribadatan dalam hal ini masjid. Masjid merupakan lembaga pendidikan Islam yang pertama muncul, di samping rumah tempat kediaman ulama’ atau muballigh.

Setelah penggunaan masjid sudah cukup optimal, maka kemudian dirasa perlu untuk memiliki sebuah tempat yang benar-benar menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran Islam. Untuk itu, muncullah lembaga pendidikan lainnya seperti pesantren, dayah ataupun surau. Nama–nama tersebut walaupun berbeda, tetapi hakikatnya sama yakni sebagai tempat menuntut ilmu pengetahuan keagamaan.

Pesantren sebagai akar pendidikan Islam, yang menjadi pusat pembelajaran Islam setelah keberadaan masjid, senyatanya memiliki dinamika yang terus berkembang hingga sekarang. Menurut Prof. Mastuhu, pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.

Pesantren sejatinya telah berkiprah di Indonesia sebagai pranata kependidikan Islam di tengah-tengah masyarakat sejak abad ke-13 M, kemudian berlanjut dengan pasang surutnya hingga sekarang. Untuk itulah, tidak aneh jika pesantren telah menjadi akar pendidikan Islam di negeri ini. Karena senyatanya, dalam pesantren telah terjadi proses pembelajaran sekaligus proses pendidikan; yang tidak hanya memberikan seperangkat pengetahuan, melainkan juga nilai-nilai (value). Dalam pesantren, terjadi sebuah proses pembentukan tata nilai yang lengkap, yang merupakan proses pemberian ilmu secara aplikatif.

Menurut Muhammad Tolhah Hasan dalam bukunya Dinamika Tentang Pendidikan Islam, disebutkan bahwa komponen-komponen yang ada dalam pesantren antara lain:

Kyai, sebagai figur sentral dan dominan dalam pesantren, sebagai sumber ilmu pengetahuan sekaligus sumber tata nilai.

Pengajian kitab-kitab agama (kitab kuning), yang disampaikan oleh Kyai dan diikuti para santri.

Masjid, yang berfungsi sebagai tempat kegiatan pengajian, disamping menjadi pusat peribadatan.

Santri, sebagai pencari ilmu (agama) dan pendamba bimbingan Kyai.
Pondok, sebagai tempat tinggal santri yang menampung santri selama mereka menuntut ilmu dari Kyai.

Sedangkan dalam proses pembelajaran dan proses pendidikan, di pesantren menggunakan dua sistem yang umum, yakni:

Sistem “sorongan” yang sifatnya individual, yakni seorang santri mendatangi seorang guru yang akan mengajarkan kitab tertentu, yang umumnya berbahasa Arab.

Sistem “bandongan” yang sering disebut dengan sistem weton. Dalam sistem ini, sekelompok santri mendengarkan dan menyimak seorang guru yang membacakan, menerjemahkan dan mengulas kitab-kitab kuning. Setiap santri memperhatikan kitab masing-masing dan membuat catatan yang dirasa perlu.

Kelompok bandongan ini jika jumlahnya tidak terlalu banyak, maka disebut dengan halaqoh yang arti asalnya adalah lingkaran. Di pesantren-pesantren besar, ada lagi sistem lain yang disebut musyawarah, yang diikuti santri-santri senior yang telah mampu membaca kitab kuning dengan baik.

Hingga kini, keberadaan pesantren telah mengalami berbagai dinamika, sejak dari pesantren tradisional hingga pesantren modern.

2.3 Lembaga-lembaga pendidikan Islam setelah Pesantren

Eksistensi pesantren senyatanya mendorong lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya, antara lain:

Madrasah

Madrasah merupakan lembaga pendidikan Islam yang lebih modern dibanding pesantren, baik ditinjau dari sisi metodologi maupun kurikulum pengajarannya. Kendati demikian, kemunculan madrasah ini tidak lain diawali oleh keberadaan pesantren. Sebagian lulusan pesantren melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi ke beberapa pusat kajian Islam di beberapa negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dan Mesir. Lulusan-lulusan Islam Timur Tengah itulah yang kemudian akhirnya menjadi pemrakarsa pendirian madrasah-madrasah di Indonesia.

Dalam madrasah, sistem pembelajaran tidak lagi menggunakan sorogan ataupun bandongan, melainkan lebih modern lagi. Madrasah telah mengaplikasikan sistem kelas dalam proses pembelajarannya. Elemen yang ada dalam madrasah juga bukan lagi Kyai dan santri, tetapi murid dan guru (ustad/ustadzah). Dan metode yang digunakan juga beragam, bisa ceramah, atau drill dan lain-lain, tergantung pada ustad/ustadzah atau guru.

2.3.1 Sekolah-sekolah Islam

Di samping madrasah, lembaga pendidikan Islam yang berkembang hingga sekarang adalah sekolah-sekolah Islam. Pada dasarnya, kata sekolah merupakan terjemah dari madrasah, hanya saja madrasah adalah kosa kata bahasa Arab, sedangkan sekolah adalah bahasa Indonesia. Namun demikian, pada aplikasinya terdapat perbedaan antara madrasah dan sekolah Islam. Madrasah berada dalam naungan Kementrian Agama (Kemenag), sedangkan sekolah Islam pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Selain itu,dari segi bobot muatan materi keagamaannya, madrasah lebih banyak materi agama dibanding sekolah Islam.

2.3.2 Pendidikan Tinggi Islam

Pendidikan Tinggi Islam juga merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang modern. Dalam sejarah, pendidikan tinggi Islam yang tertua adalah Sekolah Tinggi Islam (STI), yang menjadi cikal bakal pendidikan tinggi Islam selanjutnya. STI didirikan pada 8 Juli 1945 di Jakarta, kemudian dipindahkan ke Yogyakarta, dan pada tahun 1948 resmi berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Selanjutnya, UII merupakan bibit utama dari perguruan-perguruan tinggi swasta yang kemudian berkembang menjadi beberapa Universitas Islam yang populer di Indonesia, seperti misalnya Universitas Ibn Kholdun di Bogor, Universitas Muhammadiyah di Surakarta, Universitas Islam Sultan Agung di Semarang, Universitas Islam Malang (UNISMA) di Malang, Universitas Islam Sunan Giri (UNSURI) di Surabaya, Universitas Darul ‘Ulum (UNDAR) di Jombang dan lain-lain.

Menurut Tolhah Hasan, perkembangan dan kemajuan perguruan tinggi Islam di Indonesia banyak ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya: kredibilitas kepemimpinan, kreativitas manajerial kelembagaan, pengembangan program akademik yang jelas dan kualitas dosen yang memiliki tradisi akademik.

2.4. Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia

Tak dapat dipungkiri, bahwa seiring berjalannya waktu, lembaga-lembaga pendidikan Islam juga mengalami berbagai dinamika. Tak hanya pada pesantren, bahkan madrasah dan perguruan tinggi Islam pun tak luput dari dinamika yang ada.

Pesantren yang dulunya masih tradisional senyatanya mengalami beberapa perubahan dan perkembangan, seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Pesantren yang dulunya tradisional, dalam pola pembelajaran dan muatan materi serta kurikulumnya, kini telah mengalami perkembangan dengan mengadaptasi beberapa teori-teori pendidikan yang dirasa bisa diterapkan di lingkungan pesantren. Alhasil, kini semakin banyak bermunculan pesantren modern, yang dalam pola pembelajarannya tidak lagi konvensional, tapi lebih modern dengan berbagai sentuhan manajemen pendidikan yang dinamis. Mayoritas pesantren dewasa ini juga memberikan materi dan muatan pendidikan umum. Tidak sedikit pesantren yang sekaligus memiliki lembaga sekolah dan manajemennya mengacu pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sedangkan dinamika sistem pendidikan madrasah dapat dicatat dari beberapa perubahan, seperti dimasukkannya mata pelajaran umum dalam kurikulumnya, meningkatkan kualitas guru dengan memperhatikan syarat kelayakan mengajar, membenahi manajemen pendidikannya melalui akreditasi yang diselenggarakan pemerintah, mengikuti ujian negara menurut jenjangnya.

Tak pelak, bahwa dinamika pendidikan Islam, di samping kemadrasahan, juga muncul persekolahan yang lebih banyak mengadopsi model sekolah barat. Dan, kemunculannya itu antara lain dipicu oleh kebutuhan masyarakat muslim yang berminat mendapatkan pendidikan yang memudahkan memasuki lapangan kerja dalam lembaga pemerintahan maupun lembaga swasta yang mensyaratkan memiliki keterampilan tertentu, seperti teknik, perawat kesehatan, administrasi dan perbankan.

Pada perguruan tinggi Islam pun sejatinya juga mengalami berbagai perubahan dan perkembangan. Dinamika dalam pendidikan tinggi Islam ini salah satunya dapat diraba dari perubahan status dari Sekolah Tinggi, menjadi Institut, hingga kini menjadi Universitas. Dengan demikian, materi dan bahan ajar yang ditawarkan di perguruan tinggi Islam yang kini mayoritas menjadi Universitas, tidak hanya disiplin ilmu agama Islam saja, melainkan juga berbagai disiplin ilmu umum.

BAB I
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pada paparan dan analisa di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

Pengertian Pendidikan Islam adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian yang lebih baik, yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal. Manusia ideal adalah manusia yang sempurna akhlaqnya. Yang nampak dan sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, yaitu menyempurnakan akhlaq yang mulia.

Pendidikan Islam di Indonesia sejatinya berlangsung sejak masuknya Islam di Indonesia dengan masjid sebagai pusat peribadatan dan tempat belajar. Setelah penggunaan masjid cukup optimal, maka muncullah pesantren yang kemudian menjadi akar pendidikan Islam di Indonesia.

Keberadaan pesantren senyatanya mendorong lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Islam lain setelah pesantren, di antaranya madrasah, sekolah-sekolah Islam dan Perguruan Tinggi Islam.

Dalam perjalanannya, lembaga-lembaga pendidikan Islam tak luput dari berbagai dinamika yang ada, seiring dengan perkembangan zaman. Pesantren, dari jenis pesantren tradisional ke pesantren modern. Madrasah yang semakin memperbaiki kualitasnya dengan berbagai upaya, salah satunya peningkatan kualitas guru. Dan, perguruan tinggi Islam yang dulunya masih berstatus Sekolah Tinggi, berkembang menjadi Institut hingga akhirnya menjadi Universitas.

3.2 Saran

Sebagai manusia biasa yang tidak sempurna, tentulah tulisan-tulisan kami pun banyak terdapat kekurangan, untuk itu kami menyarankan kepada pembaca yang ingin lebih memahami Pendidikan Islam di Indonesia untuk tidak menjadi makalah ini sebagai satu-satunya rujukan, tetapi sebaiknya juga mencari tulisan-tulisan baik dari buku-buku maupun koran sebagai referensi.

DAFTAR PUSTAKA

Dhofier, Z. (1982). Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.

Hasan, M. T. 2006. Dinamika Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Jakarta: Lantabora Press.

Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren . Jakarta: INIS.

Sumber https://forumblogs.wordpress.com/2014/11/24/makalah-sejarah-pendidikan-islam-di-indonesia/

Laporan Pratikum pembiakan tanaman, Uji Kedalaman Benih

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Dalam kehidupan keseharian, tanaman melakukan beberapa aktivitas yang berguna dalam rangka mempertahankan hidup , seperti bernapas, berfotosintesis, respirasi, dan berkembang biak. Awal perkembangbiakan umumnya ditandai dengan perkecambahan. Dan tentunya di dalamnya terdapat struktur yang cukup rumit.

Perkembangbiakan pada setiap tanaman tidaklah sama. Ada beberapa spesies tanaman yang berkembangbiak dengan cara generatif dan ada juga yang berkembangbiak dengan cara vegetatif. Perkembangbiakan baik secara vegetatif sebagian besar berasal dari salah satu bagian tanaman, misalnyaberasal dari batang, akar, daun, dan lain-lain, atau bisa juga disebut bibit. Sedangkan perkembangbiakan secara generatif umumnya berasal dari biji. Pada kenyataannya kita dapat membedakan antara bibit dan benih yang keduanya digunakan dalam proses pembiakan tanaman. Pertama, metode generatif menggunakan benih. Kedua, metode vegetatif menggunakan bibit. Ketiga, metode vegetatif-generatif menggunakan bibit juga. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam aplikasinya antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain akan mengalami perbedaan dalam berkembangbiakan yang disesuaikan dengan varietas dan jenisnya.

Tentunya dalam mengembangbiakkan tanaman, metode penancapan atau kedalaman tanah juga harus disesuaikan supaya tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Oleh karena itu diperlukan uji coba kedalaman tanam menggunakan substrat tanah atau pasir dengan menanam benih pada berbagai kedalam tertentu. Bibit normal dari benih yang vigor memiliki kekuatan tumbuh pada tanah padat dengan asumsi benih yang mampu tumbuh normal pada kedalaman tanam paling dalam, sedangkan kecambah dari benih yang kurang vigor tidak memiliki kemampuan tersebut.

1.2  Tujuan
1.      Untuk mengetahui struktur kecambah dua macam jenis benih dan mengetahui keragaman perkecambahannya.
2.      Untuk melatih mahasiswa agar dapat melakukan uji kekuatan tumbuh (vigor) bibit dan memahami relevansi uji kedalaman.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Copeland (1976) perkecambahan adalah aktivitas pertumbuhan yang sangat singkat suatu embrio dalam perkembangan biji menjadi tanaman muda. Peristiwa perkecambahan ini akan terjadi beberapa proses yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu perkecambahan yaitu penyerapan air, aktivitas enzim, pertumbuhan embrio, pecahnya kulit biji dan kemudian membentuk tanaman kecil. Proses imbibisi mengakibatkan sel menjadi bengkak dan kulit biji bersifat permiable bagi oksigen dan karbondioksida (Abidin, Zainal, 1991). Proses imbibisi yang merupakan proses penyerapan air oleh biji merupakan awal proses dimulainya perkecambahan (Taiz dan Zeiger, 2002) dan efektivitasnya di lapang pertanaman ditentukan oleh posisi mikropil maupun permeabilitas kulit biji (Hartmann et al., 1997) dalam jurnal Santoso dan Purwoko (2008).

Dormansi benih dapat disebabkan antara lain adanya impermeabilitas kulit benih terhadap air dan gas (oksigen),embrio yang belum tumbuh secara sempurna,
hambatan mekanis kulit benih terhadap pertumbuhan embrio, belum terbentuknya zat pengatur tumbuh atau karena ketidakseimbangan antara zat penghambat dengan zat pengatur tumbuh di dalam embrio (Villlers, 1972). Pemunculan kecambah di atas permukaan tanah merupakan faktor yang mencerminkan vigor suatu bibit. Untuk mengetahui perlakuan yang dapat meningkatkan vigor dilakukan pengamatan terhadap kecambah yang mampu muncul di atas permukaan tanah dari sejumlah benih yang dikecambahkan (Saleh, M. Salim, 2004).

Kerugian dalam pembiakan dengan biji adalah segresi secara genetik pada tanaman-tanaman yang bersifat heterosigus dan jangka waktu yang sangat lama sejak biji sampai menjdi tanaman dewasa (Harjadi, Sri S. 1983). Pembiakan dari biji perlu memperhatikan hal-hal berikut in yaitu:
1.    Cara memperoleh biji
a.    Didapat dari kebun sendiri
Perkebunana biasanya mempunyai tempat khusu untuk memungut biji sebagai bibit. Biasanya dipilih pohon induk yang memiliki produksi tinggi, tahan terhadap serangan hama.

b.      Didapat dari Badan Penelitian Perkebunan Besar
Apabila di kebun kita tidak memiliki biji-biji yang dianggap baik maka dapat dipesan di BPPB. Biasanya biji-biji yang dihasilkan adalah biji-biji yang sudah teruji keunggulannya.

2.    Cara memilih dan memelihara biji
Buah yang dipungut adalah buah masak kemudian dipilih yang baik, tidak cacat dan yang besarnya normal. Jika biji tidak memenuhi syarat maka sebaiknya biji disingkirkan.

3.    Cara menyimpan biji
Biji-biji yang dipilih dalam keadaan kering dapat terus disemaikan untuk menunggu musim penyemaian yang tepat, biji dapat disimpan sementara waktu dan menghindari terjadinya serangan hama maka biji-biji tersebut bisa dimasukkan kedalam peti.

4.    Lamanya penyimpanan biji
Biji-biji yang baru akan tumbuh 90-100%, sedangkan yang disimpan 6 bulan daya tumbuhnya ± 60-70%. Sebaiknya penyimpanan janagan sampai lebih dari 3 bulan dan paling baik penyimpanan dilakukan sekitar 2 bulan.

5.    Musim menaburkan biji dan banyaknya biji yang diperlukan

6.    Pesemaian (AAK, 2012).

Rodrigues-Perez (2005) menyatakan bahwa perkecambahan dan ketahanan bibit merupakan kemampuan suatu tanaman untuk terus dapat hidup dan merupakan tahapan penting yang kritis dalam siklus hidup tanaman pada ekosistim kering. Posisi benih saat penanaman mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan akar sejak mulai terbentuknya akar pada proses perkecambahan hinggi bibit berumur dua bulan. Posisi benih terlentang menyebabkan adanya pembengkokan pada pangkal akar-batang. Pada benih yang terlentang memposisikan mikropil ke arah atas, sehingga saat radikula tumbuh dan berkembang akan mengarah ke atas terlebih dahulu sebelum mengikutigaya gravitasi selayaknya arah tumbuh akar. Pembengkokan ini mengganggu pertumbuhan dan perkembangan baik akar lateral maupun akar tunjang yang selanjutnya mempengaruhi nilai rasio bobot kering tajuk-akar. Pertumbuhan dan perkembangan akar yang baik terjadi pada posisi benih telungkup dan benih

ditanam tegak yang memposisikan lubang mikropil dibawah (Santoso, Bambang B dan Purwoko, Bambang S. 2008).
Bewley dan black menyatakan bahwa benih mempunyai struktur kulit yang keras dapat mengganggu penyerapan air dan pertukaran gas, selain adanya zat penghambat perkecambahan di dalam kulit benih itu sendiri dan menghalangi lepasnya penghambat yang terdapat dalam endosperm. Salah satu cara yang efektif yang dapat dilakukan untuk mempersingkat masa dormansi benih adalah dengan memanaskan benih dengan  oven listrik  pada suhu tertentu. Pada umumnya setiap benih tanaman memiliki kekerasan dan ketebalan kulit yang berbeda. Semakin tebal kulit maka memerlukan suhu lebih tinggi untuk memberi peluang Masuknya air ke dalam benih (Ardian, 2008).

BAB 3 METODOLOGI

3.1    Waktu dan Tempat
Pratikum pembiakan tanaman 1 ini dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2012 pukul 14.00 WIB di Laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2    Alat dan Bahan

3.2.1 Alat
1.    Bak pengecambahan
2.    Penggaris
3.    Hand sprayer

3.2.2 Bahan
1.    Benih monokotil (padi atau jagung)
2.    Benih dikotil (kedelai atau kacang tanah)
3.    Subtrat tanah dan pasir

3.3    Cara Kerja
1.        Membuat media tanam berupa campuran tanah top soil dan pasir perbandingan 1:1, kemudian membersihkan dan mengayak halus.
2.        Memasukkan campuran media tanam ke dalam bak pengecambah hingga ½ - 2/3 tinggi bak (untuk kedalaman 2,5 – 7,5), menyiram sampai kelembapan dirasa cukup.
3.        Menanam 20 – 25 butir benih monokotil (jagung atau padi) dan dikotil (kedelai atau kacang tanah) dengan kedalaman 2,5 ; 5,0 dan 7,5 dalam tiga kali ulangan.
4.        Menutup benih yang telah ditanam dengan campuran tanah lembab yang sama setinggi kedalaman tanaman.
5.        Setiap bak pengecambahan menanam satu macam jenis benih dengan kelembapan tertentu (sesuai perlakuan) sebanyak tiga lajur (tiga kali). Jangan lupa untuk selalu menjaga kelembapan subtrat setiap saat.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.2 Pembahasan
Tabel 1. Pengaruh dari uji kedalaman pada pertumbuhan perkecambahan biji jagung dan biji kacang tanah.

            Data diatas merupakan hasil dari percobaan yang telah di lakukan pada pertemuan uji kedalaman tanah. Pada percobaan jagung yang dilakukan dengan perlakuan 2,5 cm, 5 cm, dan 7,5 cm rata-rata kecambah yang tumbuh normal pada percobaan 2,5 cm dan 5 cm, sedangkan pada perlakuan dengan perlakuan 7,5 cm ada tanaman jagung yang pertumbuhannya abnormal dan ada juga yang mati yang disebabkan oleh faktor dari dalam biji tersebut seperti daya kecambah, kebutuhan cahaya dan lain-lain. Tinggi tanaman pada setiap percobaan juga mengalami perbedaan yang berbeda jauh dari setiap perlakuan. Tinggi tanaman pada kedalaman 2,5 cm dan 5 cm perbedaannya tidak berbeda jauh rata-rata memiliki tinggi tanaman 5,43 cm, sedangkan pada kedalaman 7,5 cm rata-rata 19,6 cm. Perlakuan dengan kedalaman 7,5 cm memiliki tinggi yang berbeda karena keperluan cahaya matahari sangat banyak sehingga tanaman berusaha untuk mencapai permukaan tanah agar bisa berfotosintesis.

            Data yang diperoleh dari percobaan yang menggunakan kacang tanah didapat bahwa pada perlakuan dengan kedalaman 2,5 cm, 5 cm dan 7,5 cm memiliki perbedaan yang sangat signifikan dari perlakuan 1, 2 dan 3. Perlakuan dengan kedalaman 2,5 cm memiliki kecambah yang banyak mengalami kematian dan juga memiliki kecambah yang abnormal, sedangkan pada kedalaman 5 cm rata-rata sama dengan perlakuan 2,5 cm tetapi jumlah kecambah yang abnormal dan normal lebih banyak dari pada kecambah pada perlakuan dengan kedalaman 2,5 cm. Kedalaman 7,5 cm memiliki kecambah yang normal lebih banyak dari pada kedua perlakuan sebelumnya. Dari ketiga perlakuan memiliki tinggi tanaman yang hampir sama.

Tabel 2. Kekuatan tumbuh bibit jagung dan kacang tanah

                                           Kecambah bibit normal (hari ke-6)
Kekuatan tumbuh =                                                                                    x 100%      
                                    Jumlah total benih yang dikecambahkan

Pada tanaman jagung:
1.      Kedalaman 2,5 cm
                                    
                                      =100% 

2.      Kedalaman 5 cm

                                    = 96,67%

3.      Kedalaman 7,5 cm
                                   
                                    = 83,33%

Pada tanaman kacang tanah:
1.      Kedalaman 2,5 cm

                                    = 16,67%

2.      Kedalaman 5 cm
                                   
                                      = 36,67%


3.      Kedalaman 7,5 cm
                                                
                                      = 46,67%

Kekuatan tumbuh benih pada data yang diperoleh diatas mempunyai perbedaan. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh biji yang ditanam dan kedalaman biji yang ditanam. Pada biji jagung yang berkecambah normal pada kedalaman 2,5 cm,5 cm dan 7,5 cm masing-masing memiliki kekuatan tumbuh 100%, 96,67% dan 83,33% sehingga pada biji jagung dikategorikan mempunyai vigor kekuatan tumbuh yang tinggi karena melebihi 75%.

Biji kacang tanahyang berkecambah normal pada kedalaman 2,5 cm, 5 cm, dan 7,5 cm masing-masing memiliki kekuatan tumbuh 16,67%, 36,67%, dan 46,67% sehingga kacang tanah dikategorikan memiliki vigor kekuatan tumbuh yang relatif rendah karena kurang dari 75%.

Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan benih antara lain:

1. Temperatur/suhu
Temperatur harus dikendalikan dengan teliti beberapa macam benih berkecambah diatas suatu batas yang lebar dari temperatur yang wajar, tetapi yang lain mulai tumbuh dengan segera hanya dibatas yang sempit. Benih berkecambah biasanya pada temperatur dimana benih itu telah menyesuaikan dengan iklim di tempat benih tersebut dihasilkan. Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22 derajat celcius sampai dengan 37 derajad selsius. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti.

2. Cahaya
Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan.

Kebutuhan benih terhadap cahaya untuk berkecambah berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman. Benih yang dikecambahkan pada keadaan kurang cahaya atau gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi, yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotil, kecambah pucat dan lemah.

3. Kelembaban / Kelembapan Udara
Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat.

4. Tekanan partikel tanah
Hal ini dapat disebabkan karena pemadatan tanah oleh air hujan atau traktor. Pada tanah yang padat, benih sukar untuk berkecambah karena benih tidak dapat menembus sampai permukaan tanah. Pada bibit normal dari benih yang vigor yang memiliki kemampuan tumbuh pada tanah padat dengan asumsi benih yang mampu tumbuh normal pada kedalaman tanam paling dalam, sedangkan kecambah dari benih yang kurang vigor tidak memiiki kemampuan tersebut.

            Data yang di dapat pada pratikum ini memiliki perbedaan pada setiap perlakuan yang diterapkan pada biji jagung dan biji kacang tanah. Perlakuan tersebut sangat berpengaruh terhadap kekuatan tumbuh tanaman karena setiap tanaman memiliki faktor yang dapat berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan biji. Faktor tersebut faktor lingkungan dan faktor internal yang ada dalam biji tersebut. Kedua faktor tersebut memiliki peran yang penting dalam mendukung pertumbuhan biji.

            Perlakuan yang diterapkan pada pratikum ini memiliki perbedaan pertumbuhan pada setiap biji. Biji jagung yang paling ideal ditanam di lapang pada kedalaman 2,5 cm dan 5 cm karena biji jagung memerlukan banyak cahaya untuk tumbuh dan juga memerlukan oksigen yang cukup. Sedangkan, pada biji kacang tanah yang paling ideal untuk diterapkan dilapang antara 7,5 cm atau lebih karena biji kacang tanah memerlukan banyak nutrisi atau mineral untuk tumbuh.

BAB 5 PENUTUP

5.1    Kesimpulan
1.    Kekuatan tumbuh biji jagung lebih baik dari pada kekuatan tumbuh kecambah yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berasal dari biji tersebut maupun faktor lingkungan.
2.    Faktor lingkungan dapat mempengaruhi pertumbuhan biji. Faktor tersebut antara lain: suhu atau temperatur, cahaya, kelembapan udara dan tekanan partikel.
3.    Perlakuan yang diterapkan dapat mempengaruhi vigor kekuatan tumbuh biji.
4.    Pada kedalaman 2,5 cm dan 5 cm adalah kondisi ideal bagi pertumbuhan biji jagung, sedangkan kedalaman 7,5 cm kondisi yang ideal bagi biji kacang tanah.

5.2    Saran
Praktikum uji kedalaman seharusnya dilakukan dengan teliti karena hal ini menyangkut hasil yang akan didapat dan hasil tersebut harus diterapkan di lahan sehingga mahasiswa dapat mengetahui pengaruh pertumbuhan biji tersebut yang disebabkan oleh kondisi lapang.

DAFTAR PUSTAKA
AAK. 2012. Budidaya Tanaman Kopi. Yogyakarta. Kanisius.

Abidin, Zainal. 1991. Dasar Pengetahuan Ilmu Pertanian. Bandung. Offset Angkasa.

Ardian. 2008. Pengaruh Perlakuan Suhu dan Waktu Pemanasan Benih Terhadap Perkecambahan Kopi Arabika (Coffea arabica). Jurnal Akta Agrosia. 11(1):25-33.

Harjadi, Sri S. 1983. Pengantar Agronomi. Jakarta. Gramedia.

Saleh, M. Salim. 2004. Pematahan Dormansi Benih Aren Secara Fisik Pada Berbagai Lama Ekstraksi Buah. Agrsains. 6(2): 79-83.

Santoso dan Purwoko. 2008. Pertumbuhan Bibit Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) pada Berbagai Kedalaman dan Posisi Tanam Benih. Bul Agron. 36(1): 70-77.



Laporan Praktikum Teknik Media Tanam (Sawi)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Media tanam merupakan salah satu komponen yang harus ada dalam melakukan penanaman tanaman yang diingnkan atau budidaya tanaman tertentu. Menentukan media tanam yang akan digunakan dalam budidaya tanaman sangat sulit karena untuk menentukan media yang baik harus memperhatikan iklim, cuaca dan lain-lain yang berhubungan dengan faktor yang menentukan cepat lambatnya pertumbuhan tanaman tersebut. Salah satu penentu dalam media tanam yang digunakan adalah komposisi media dan pemberian pupuk yang digunakan. Kedua hal tersebut sangat menentukan dalam mempercepat pertumbuhan tanaman dan ketersedian unsur hara dan air didalam media tanam tersebut.

Tanah merupakan salah satu media tanam yang umum digunakan dalam melakukan penanaman tanaman budidaya dan tanaman pangan. Pada umumnya tanah memiliki kekurangan dan kelebihan tergantung dari iklim yang ada pada suatu wilayah tertentu. Tanah juga sebagai habitat mikroorganisme yang berguna untuk membantu tanaman dalam menyerap unsur hara dalam bentuk ion. Tetapi, ada juga tanah yang tidak bisa menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman seperti tanah yang tercemar oleh logam berat dan lain-lain.

Rekayasa media tanam dilakukan untuk mencari media tanam yang baik digunakan dalam budidaya tanaman dan tanaman pangan. Hal tersebut juga dilakukan untuk meminimalkan kekurangan dari masing-masing media tanam sehingga dapat menguntungkan bagi tanaman. Campuran tanah dan kompos merupakan salah satu rekayasa media tanam yang dilakukan untuk mendapatkan media yang ideal bagi tanaman misalnya kompos merupakan media tanam yang kaya akan bahan organik tetapi juga memiliki kekurangan seperti dapat merangsang pertumbuhan bakteri dan jamur yang patogen bagi tanaman, sedangkan tanah merupakan media tanam yang umum digunakan dalam melakukan penanaman tanaman budidaya maupun tanaman pangan. Tanah juga memiliki kelebihan misalnya tingkat aerasi tinggi, dan lain-lain, tetapi juga tanah ada juga yang memiliki kekuranan seperti tanah yang tercemar oleh logam berat tidak mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman.

Tanaman yang digunakan dalam rekayasa media tanam biasanya digunakan tanaman yang mudah dibudidayakan seperti sawi, cabe, tomat dan lain-lain. Sawi sekelompok tumbuhan darimarga Brassica yang dimanfaatkan daun atau bunganya sebagai bahan pangan (sayuran).  Petani banyak yang memilih menanam sawi karena memang relative cukup mudah membudidayakannya. Sawi juga mengandung serat, vitamin A, vitamin B, vitamin B2, vitamin B6, vitamin C, kalium, fosfor, tembaga, magnesium, zat besi, dan protein. Dengan kandungannya tersebut, Sawi Hijau berkhasiat untuk membantu kesehatan. Untuk membudidayakan tanaman sawi perlu diperhatikan cuaca, kondisi iklim yang ada disuatu tempat tertentu. Tanaman ini juga tahan terhadap air hujan sehingga dapat ditanam sepanjang tahun dan masa panenya tidak bergantung pada musim. Tanah yang cocok untuk sawi adalah tanah yang gembur, banyak mengandung humus, subur dan drainase yang baik serta pH tanah antara 6-7.

1.2  Tujuan
Untuk mendapatkan media tanam yang baik dalam melakukan budidaya tanaman tertentu.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Media tanam merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman yang akan ditanam atau dibudidayakan (Fatimah dan Handarto, 2008). Media tanam yang baik tersebut harus dapat memenuhi kebutuhan unsur hara dan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman baik dari sifat fisik, kimia maupun biologi. Sifat fisik media tanam dapat menentukan dalam tekstur tanah yang dibutuhkan dalam pertumbuhan akar tanaman. Sifat kimia dapat mempengaruhi media tanam dalam menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Sedangkan sifat biologi tanah menentukan dalam habitat mikroorganisme didalam media sehingga mempengaruhi dalam kesuburan dan tekstur media tanam.

Nilai pertanian dari suatu pupuk tidak menentu, karena bahan ini mudah berubah. Oleh karenanya macam dan jumlah pupuk yang diberikan harus dapat mengikuti berbagai macam perubahan karena, Tanah dan pupuk terjadi reaksi kimia dan biologis yang mempengaruhi mutu pupuk, serta iklim yang dapat mempengaruhi tanah, tanaman dan pupuk. Perlu diperhatikan. Bila ada kelebihan atau kekurangan air, efisien penuh dari pemupukan sukar diharapkan. Sebetulnya, setiap faktor yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman akan menurunkan efensiansi pemupukan, dan akibatnya respons dari tanaman terhadap pemupukan juga tergangu. Jika faktor-faktor lain tidak merupakan pembatas, maka jumlah pupuk dapat ditentukan dengan tingkat kepastian tertentu. Meskipun keadaannnya sangat kompleks, petunjuk-petunjuk tertentu dapat diikuti dalam menentukan macam atau jumlah pupuk yang harus di berikan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

1. Macam tanaman yang akan diusahakan: nilai ekonomi tanaman, kemampuan tanaman menyerap hara
2. Keadaan kimia tanahsehubungan dengan jumlah hara tersedia
3. Keadaan fisik tanah sehubungan dengan kadar air dan aerasi media (Hanum, 2008).

Tanah pertanian yang digunakan dalam menanam tanaman budidaya maupun tanaman pangan biasanya terdapat pasir dengan komposisi yang banyak sehingga tanah pertanian tersebut bertekstur ringan, mempunyai kapasitas yang rendah dalam menyimpan air dan unsur hara, dan rentan terhadap erosi (Djajadi, dkk, 2010). Faktor-faktor dalam media tanam sangat mempengaruhi dalam pertumbuhan tanaman sehingga tanaman yang akan ditanam dapat tumbuh dengan baik. Media tanam yang sehat biasanya dapat memenuhi unsur hara bagi tanaman, tidak ada patogen yang dapat menyerang akar baik nematoda, bakteri maupun jamur yang bisa merusak akar tanaman sehingga dapat merugikan tanaman.

Unsur yang dibutuhkan oleh tanaman merupakan unsur makro seperti N,P dan K. Unsur hara tersebut biasanya didapat dari penambahan pupuk yang dilakukan oleh petani. Biasanya pupuk yang digunakan untuk menambah N biasanya urea, unsur P biasanya terdapat pada pupuk SP 36 dan unsur K biasanya terdapat pada KCl. Pemberian pupuk biasanya dilakukan dengan 2 tahap yaitu sebelum tanam dan setelah penanaman dengan umur tanaman tertentu (Susila, 2006). Pupuk digunakan untuk penambahan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanaman mendapatkan unsur hara dan juga dapat mendukung pertumbuhan tanaman. Dalam melakukan pemupukan harus memperhatiakan dosis yang akan diberikan kepada tanaman agar tidak terjadi keracunan unsur hara pada tanaman sehingga berkembang cara penanaman tumbuhan dengan memberikan nutrisi yang tepat bagi tumbuhan ().

Media tanam yang baik adalah media tanam yang dapat menyediakan unsurhara bagi tanaman dan tidak tercemar oleh senyawa-senyawa yang merugikan tanaman dan media tanam tersebut. Dalam beberapa pupuk yang diberikan ke tanaman biasanya digunakan unsur Pb sebagai pemberat yang berguna bagi pupuk sehingga pupuk dapat bertahan lama dalam tanah. Tetapi unsur Pb ini merupakan salah satu unsur logam berat yanag dapat merusak struktur tanah sehingga tanah tersebut tercemar oleh logam berat yang tidak dapat dikurangi oleh tanah tersebut (Hendrasarie, Novirina, 2007).

Salah satu yang penting dalam membudidayakan tanaman adalah benih yang digunakan. Benih yang digunakan biasanya digunakan benih yang memiliki kualitas yang baik dan telah dijamin oleh badan pemerintah yang menangani benih yang akan diedarkan oleh perusahaan bersangkutan. Sebaiknya dalam melakukan pembenihan dilakukan dengan cara persemaian benih. Benih yang ditumbuhkan pada media semai akan melakukan proses perkecam-bahan (germination). Perkecambahan benih sangat dipengaruhi oleh viabilitas benih dan lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan dan perkem-bangan bibit (Nurwardani, Paristiyanti, 2008).

Sawi (Brassica juncea L.) merupakan jenis tanaman sayuran daun yang memiliki nilai ekonomis tinggi setelah kubis dan brokoli. Selain itu, tanaman sawi juga mengandung mineral, vitamin, protein dan kalori. Sawim dapat tumbuh di dataran tinggi maupun rendah yaitu 3-1.200 m dpl, namun tinggi tempat yang optimal adalah 100-500 m dpl. Sawi banyak dibudidayakan para petani di dataran rendah karena akan sedikit lebih menguntungkan (Haryanto dkk, 2008).  Tanaman ini juga dibudidayakan sangat mudah sehingga di Indonesia tanaman ini cukup populer. Tanaman sawi berasal dari China yang beriklim dingin tetapi di Indonesia daapat dibudidayakan dengan mudah dengan ketinggian tertentu. Budidaya tanaman sawi perlu diperhatikan ketinggian dan iklim yang sangat berpengaruh dalam budidaya tanaman ini. Sawi juga mengandung serat, vitamin A, vitamin B, vitamin B2, vitamin B6, vitamin C, kalium, fosfor, tembaga, magnesium, zat besi, dan protein (Nusifera, Sosiawan, 2001).

Pada budidaya tanaman, khususnya sawi, baik pembibitan maupun penanaman dilahan media tanam merupakan salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Media Tumbuh di lahan atau tanah adalah tempat tumbuh tumbuhan di atas permukaan bumi. Di dalam tanah terdapat air, udara dan berbagai hara tumbuhan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Air yang beada dalam tanah sangat pentig untuk proses kimia, biologi dan fisika tanah. Sebagain air tanah terdapat dalam bentuk lapisan tipis yang dinamakan air kapiler. Air kapiler membentuk larutan tanah yang berfungsi seba-gai sumber unsur hata tumbuhan. Udara dalam tanah beasal dari udara atmosfir yang mengandung sekitar 21% Okigen, 78% nitrogen, dan 1% CO2 beserta gas lainnya. Semua gas tersebar dalam poripori tanah atau terlarut dalam tanah. Akar dan organisme tanah memerlukan oksigen untuk proses pernafasan (respirasi). Oksigen dalam tanah digunakan oleh se-mua mahluk hidup dalam tanah, baik organisme maupun mikroor-ganisme, sehingga konsentrasi oksigen dalam tanah akan lebih rendah dibandingakan dengan oksigen di atas permukaan tanah (atmosfir). Di dalam tanah terdapat nitrogen, fosfor, belerang, kalium, kalsium dan magnesium dalam jumlah yang relative banyak (unsur hara makro) dan terdapat sedikit besi, mangan, boron, seng dan tembaga (unsur hara mikro). Beberapa tumbuhan membutuhkan beberapa unsur lain seperti natrium, molibdenum, klor, flour, iod, silikon, strontium. Hara esensial (penting) sebagian besar terdapat dalam tanah. Nitogen merupakan unsur hra yang sangt penting bagi tumbuhan. Nitrogen merupakan ba-han baku untuk penyusunan protein dan asam amino tumbuhan. Nitoden diserap oleh tumbuhan dalam bentuk nitrat dan amonium. Fosfor dibentuk pada tanah mineral dan berbagai senyawa organik. Fosfor diserap oleh tanaman dalam bentuk ion fospat. Belerang ditemukan dalam tanah mineral. Belerang diserap oleh tumbuhan dalam bentuk sulfat. Kalium, kalsium dan magnesium merupakan logam. Pada saat ketiga logam tersebut di atas bereksi dengan air maka akan dibebaskan ion-ion kalium, kalsium dan magnesium (Nurwandani, 2008).

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum acara 2 teknik media tanam dengan judul “rekayasa media tanam” dilaksanakan mulai tanggal 1 maret 2012 sampai rentang waktu 1 bulan, yang berakhir pada tanggal 7 april 2012 dan dilaksanakan di lahan Agrotecno Park, Universitas Jember.

3.2 Bahan dan Alat

3.2.1 Bahan
1. Tanah  kering angin lolos mata saing 2 mm
2. Bahan organik
3. Sekam
4. Bibit sawi
5. Pupuk nitrogen (urea)
6. Air

3.2.2 Alat
1. Timba plastik
2. Ayakan 2 mm
3. Karung plastik
4. Cawan timbang
5. Polibag
6. Timbangan

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Media Tanam Kombinasi I
1 . Menimbang tanah kering angina sebanyak 2 kg.
2. Memasukkan dalam pot.
3. Membasahi dengan air sedikit demi sedikit sebanyak 2 kg.
4. Menimbang dan mencatat beratnya.
5. Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
6. Mengukur pH tanah.
7. Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
8. Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
9. Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
10. Merawat tanaman :
a. Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b. Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c. Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
11. Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a. Membongkar tanaman secara hati-hati.
b. Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c. Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d. Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.2 Media Tanam Kombinasi II
1. Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2. Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
3. Memasukkan dalam pot.
4. Menimbang dan mencatat beratnya.
5. Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
6. Mengukur pH tanah.
7. Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
8. Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
9. Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
10. Melakukan penanaman bibit sawi.
11. Melakukan pemupukan.
a. Melakukan pemupukan pertama setelah memindahkan tanaman dari polybag ( 5 g Urea).
b. Melakukan pemupukan kedua 15 hari setelah tanaman dipindah dari polybag (5 g Urea).
12. Merawat tanaman :
a. Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b. Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c. Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
13. Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a. Membongkar tanaman secara hati-hati.
b. Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c. Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d. Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.3 Media Tanam Kombinasi III
1. Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2. Mencampur dengan sekam padi hingga merata sebanyak 100 gram.
3. Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
4. Memasukkan dalam pot.
5. Menimbang dan mencatat beratnya.
6. Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
7. Mengukur pH tanah.
8. Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
9. Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
10. Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
11. Merawat tanaman :
a. Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b. Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c. Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
12. Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a. Membongkar tanaman secara hati-hati.
b. Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c. Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d. Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.4 Media Tanam Kombinasi IV
1. Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2. Mencampur dengan sekam padi hingga merata sebanyak 100 gram.
3. Menambah urea hingga merata sebanyak 50 gram.
4. Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
5. Memasukkan dalam pot.
6. Menimbang dan mencatat beratnya.
7. Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
8. Mengukur pH tanah.
9. Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
10. Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
11. Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
12. Merawat tanaman :
a. Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b. Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c. Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
13. Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a. Membongkar tanaman secara hati-hati.
b. Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c. Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d. Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.5 Media Tanam Kombinasi V
1. Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2. Mencampur dengan bahan organik  hingga merata sebanyak 100 gram.
3. Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
4. Memasukkan dalam pot.
5. Menimbang dan mencatat beratnya.
6. Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
7. Mengukur pH tanah.
8. Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
9. Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
10. Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
11. Merawat tanaman :
a. Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b. Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c. Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
12. Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a. Membongkar tanaman secara hati-hati.
b. Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c. Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d. Mengukur pH tanah masing-masing pot.

3.3.6 Media Tanam Kombinasi VI
1. Menimbang tanah kering angin sebanyak 2 kg.
2. Mencampur dengan bahan organik  hingga merata sebanyak 100 gram.
3. Menambahkan urea hingga merata sebanyak 50 gram.
4. Membasahi hasil campuran dengan air sedikit demi sedikit hingga kapasitas lapang sebanyak 2 kg.
5. Memasukkan dalam pot.
6. Menimbang dan mencatat beratnya.
7. Menutup pot untuk menghindari air hujan atau gangguan lain dan membiarkan selama 7 hari.
8. Mengukur pH tanah.
9. Menambah dengan air hingga bobotnya kembali ke berat semula (kapasitas lapang) apabila terjadi perubahan berat.
10.    Mengusahakan agar tidak terjadi penutupan pori-pori bagian atas tanah dalam panambahan air.
11. Mengulangi pekerjaan tersebut sebanyak 3 kali.
12. Merawat tanaman :
a. Menjaga kebersihan dengan cara melakukan penyiangan rumput dan gulma sekitar area tanaman setiap hari.
b. Melakukan perlindungan tanaman terhadap gangguan OPT.
c. Menjaga tanaman agar tidak layu permanen, dengan cara menambah kekurangan air ke berat semula.
13.    Memanen tanaman setelah berumur 35 hari
a.         Membongkar tanaman secara hati-hati.
b. Membersihkan tanah yang melekat pada tanaman dengan mencelupkan ke dalam air.
c. Menimbang tanaman yang sudah bersih tersebut.
d. Mengukur pH tanah masing-masing pot.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.2 Pembahasan
Tanah merupakan salah satu media tanam yang baik dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Dalam mendukung media tanam tanah harus memiliki sifat fisik, kimia dan biologi tanah sehingga dari kombinasi ke tiga komponen tersebut tanah dapat mengasup unsur-unsur dan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman. Pengambilan tanah pada pratikum ini dilakukan dengan cara sederhan yaitu menggunakan cangkul dan memperhatikan kedalaman yang akan digunakan untuk media tanam. Tanah yang baik digunakan untuk media tanam digunakan pada kedalaman 20-30 cm dari permukaan tanah karena pada ketinggian tersebut terletak tanah yang banyak mengandung humus yang disebut top soil sehingga tanah tersebut dapat menyediakan unsur hara yang baik.

Rekayasa media tanam dilakukan bertujuan untuk mendapatkan media yang cocok atau ideal sehingga pada media tersebut dapat menyediakan unsur hara dan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman. Pengkomposisian media merupakan salah satu rekayasa media tanam yang digunakan dengan cara memperbandingkan komposisi antara tanah dan pelakuan yang akan digunakan. Komposisi media pada BNO dan BNP memiliki komposisi yaitu 2 kg tanah dengan 100 g bahan organik, sedangkan pada media yang digunakan pada SNO dan SNP memiliki komposisi yaitu 2 kg tanah dan 100 g arang sekam. Dari ke empat media yang digunakan antara BNO dan BNP ada perbedaan dari keduanya yaitu penambahan pupuk urea yang digunakan pada BNP dengan takaran 5 g, sedangkan pemberian pupuk dalam media SNO dan SNP dilakukan pada SNP dengan takaran 5 g. Cara membuat media dengan kapasitas lapang dilakukan dengan cara mencampur media yang telah ditentukan kemudian menimbang media yang sudah dicampur kemudian memberikan air dengan takaran tertentu sehingga diketahui air yang mampu ditahan oleh tanah.

Dari pratikum yang telah dilakukan menunjukkan data bahwa rata-rata pada perlakuan dengan media SNO dan SNP mengalami kematian yang diakibatkan oleh media yang bahwa media dengan arang sekam memiliki tingkat pengikatan air dengan cara penyiraman lebih besar dari pada perlakuan yang lainnya, sehingga akar tanaman mengalami kebusukan karena kebanyakan air yang tertahan oleh media yang digunakan. Pada media tanah dari setiap kelompok yang telah dilakukan pada media KNO dan KNP mengalami dosis air atau pemberian air pada media ini meningkat karena tanah yang digunakan dapat meloloskan air tinggi sehingga air yang disediakan pada media tanam tersebut tidak efisien penggunaannya. Media BNO dan BNP rata-rata media ini dapat menumbuhkan tanaman walaupun rata-rata tanaman yang ditumbuhkan kecil-kecil. Hal ini dikarenakan oleh media yang digunakan banyak mengandung bahan organik dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga kebutuhan nutrisi tanaman yang ada pada media tersebut ditambah maupun tidak ditambah tidak akan mempengaruhi tanaman yang ditanam. Kebutuhan air pada pratikum ini yang paling banyak adalah media KNO dan KNP karena tanah yang digunakan adalah tanah yang besar dalam meloloskan air sehingga air banyak tidak digunakan oleh tanaman.

Dari pratikum yang telah dilakukan pada masing-masing kelompok rata-rata kapasitas lapang yang digunakan pada masing-masing kelompok berkisaran antara 2,3-2,4 kg pada kapasitas lapang. Pada kelompok 1,2,4,5 dan 6 dosis air yang paliing banyak adalah perlakuan KNP. Hal tersebut terjadi karena ttanah yang digunakan adalah tanah yang dapat meloloskan air cukup tinggi sehingga tanaman tidak dapat memanfaatkan air dengan efisien. Tetapi pada kelompok 3 dosis air yang paling banyak pada media SNO. Hal ini terjadi karena pada arang sekam mudah untuk meningkatkan aerasi yang tinggi sehingga media tersebut dengan mudah untuk menguapkan air. Untuk tinggi tanaman yang diperoleh dari data yang telah dilakukan dalam pratikum ini pada media KNP dan BNO pada masing-masing kelompok. Hal ini terjadi karena pada media KNP tanah yang digunakan di campurkan dengan pupuk urea sehingga tanaman dibantu dengan unsur hara N sehingga berpengaruh pada tinggi tanaman, sedangkan pada BNO tinggi tanaman mengalami perubahan yang dapat dilihat karena media BNO merupakan media yang kaya akan unsur hara organik sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik pada media ini karena unsur hara dapat disediakan oleh media tanam walaupun pada media BNO ada tanaman yang mati. Perlakuan yang terbaik dari pratikum ini adalah media yang digunakan pada BNO krena pada media bahan organik banyak mengandung unsur hara organik yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanaman dapat mengambil bahan organik secara alami walaupun ditambahakan oleh urea tanaman masih dapatkan unsur hara yang ada pada bahan organik tersebut.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rekayasa media tanam adalah dosis pemupukan yang akan diberikan dalam setiap tanaman dan pemupukan yang akan diletakkan dalam setiap media tanam dan juga dosis air yang diberikan pada setiap media tanam. Untuk pemberian pupuk yang dilakukan harus sesuai dengan takaran yang telah ditentukan pada setiap label pupuk sehingga tanaman tidak mengalami kelebihan unsur hara yang dapat menyebabkan tanaman keracunan unsur hara. Peletakan pupuk pada setiap tanaman harus dilakukan jauh dari daerah perakaran karena apabila terlalu dekat perakaran menyebabkan tanaman terhambat pertumbuhannya yang disebabkan oleh pupuk yang belum menjadi ion sehingga tanaman tidak dapat menyerap pupuk tersebut.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pada pratikum ini dapat disimpulkan perlakuan yang paling baik dalam rekayasa media tanam yaitu pada media BNO dan BNP karena pada media ini digunakan media yang penuh bahan organik dan juga dilakukan pemupukan sehingga tanaman dapat unsur hara yang cukup. Pemberian pupuk harus sesuai dengan dosis yang tertera pada label pupuk sehingga tanaman tidak akan terjadi keracunan dan juga pemupukan harus dilakukan jauh dari akar tanaman agar pupuk dapat diurai menjadi ion sehingga dapat dimanfaatkan oleh akar tanaman.

5.2 Saran
Untuk melakukan pratikum ini perlu diperhatikan pemupukan dan dosis pupuk yang diberikan. Pemberian dosis air yang diberikan pada tanaman harus diperhatikan agar tanaman tidak terjadi kebusukan pada akar tanaman karena kelebihan air yang diberikan pada setiap media tanam.

DAFTAR PUSTAKA

Djajadi, dkk. 2010. Pengaruh Media Tanam Dan Frekuensi Pemberian Air Terhadap Sifat Fisik, Kimia Dan Biologi Tanah Serta Pertumbuhan Jarak Pagar. Jurnal Littri. Vol 16(2):64-69.

Fatimah dan Handarto. 2008. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata, Nees). Embryo. Vol 5(2):133-148.

Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman. Jakarta : Depdiknas.

Haryanto, Eko, Dkk. 2008. Sawi Dan Selada. Jakarta : Penebar Swadaya.

Hendrasarie, Novirina. 2007. Teknik Pembibitan Tanaman dan Produksi Benih Jilid 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Hendrasarie, Novirina. 2007. Kajian Efektifitas Tanaman Dalam Menjerap Kandungan Pb di Udara. Jurnal Rekayasa Perencanaan. Vol. 3(2). [online] diakses pada tanggal 25 April 2012.

Nurwandani, Paristiyanti. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih. Jakarta : Depdiknas.

Nusifera, Sosiawan. 2001. Respons Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Terhadap Pupuk Daun Nutra-Phos N Dengan Konsentrasi Bervariasi. [online] diakses pada tanggal 25 April 2012.

Susila, 2006. Panduan Budidaya Tanaman Sayuran. Bogor: IPB.