Oleh: KJS
Kemarin baru saya perhatikan pada suatu kegiatan kampus. Saya mengambil gambarnya. Pribadi yang rendah hati, selalu hadir tanpa banyak bicara, hanya membiarkan kameranya berbicara. Kehadirannya adalah cahaya di balik layar. Setiap kali menekan tombol bidik, ada ketulusan yang terpatri dengan kepekaan membaca momen.
Sebagai bagian dari staf Humas Universitas,beliau telah banyak membantu dalam mempublikasikan berita melalui rekaman kamera yang penuh makna, jasanya mungkintak selalu terlihat di panggung depan, namun jejaknya nyata di setiap berita yang dipublikasikan, di setiap gambar yang menghidupkan wajah dan kampus cerita dalam bingkai yang berbicara tanpa kata. Dan Ia tak hanya memotret namun ia menyulam cahaya dan bayang menjadi narasi, menghadirkan kisah yang tak lekang oleh waktu.
Di antara keramaian-pikuk kampus, ia tetap berjalan tenang, mengajarkan bahwa "terkadang", keindahan lahir dari ketulusan yang sunyi, dari dedikasi yang tak pernah meminta sorotan.
Publikasi demi publikasi, berita demi berita, semua tersaji indah karena sentuhan diamnya yang bekerja dengan cinta.
Dan dari beliau kami belajar bahwa pengabdian sejati tak selalu memerlukan tepuk tangan, cukup karya yang jujur dan kesetiaan pada setiap detail yang diabadikan. Dan pribadi yang rendah hati itu adalah Pak Salmin, begitu sering kami menjelajah.